Bank-bank Hong Kong kehilangan talenta terbaik akibat proses rekrutmen yang terlalu panjang
Perekrutan naik 2,5% di 15 bank berdasarkan survei tahunan Asian Banking & Finance.
Bank-bank di Hong Kong dinilai perlu menyederhanakan proses perekrutan dan meninjau kembali persyaratan bahasa jika ingin menarik serta mempertahankan talenta terbaik, menurut para pakar rekrutmen.
Proses seleksi yang panjang dan berlapis dinilai mengurangi daya saing bank dalam memperebutkan kandidat berkualitas. Robert Sheffield, Managing Director untuk China dan Hong Kong di firma rekrutmen Morgan McKinley, mengatakan banyak kandidat papan atas akhirnya memilih perusahaan lain yang menawarkan proses perekrutan lebih cepat dan efisien.
“Kami melihat sejumlah kandidat terbaik mengambil peluang di perusahaan lain yang menawarkan pengalaman rekrutmen yang lebih ringkas dan efisien,” ujarnya. Menurutnya, talenta dengan keterampilan tinggi cenderung enggan menjalani proses wawancara yang terlalu lama.
Pelamar biasanya harus melalui tes kognitif, kepribadian, dan perilaku untuk memprediksi performa kerja, disertai penyediaan referensi yang detail. Manajer perekrutan juga menilai soft skills, kecerdasan emosional, serta kesesuaian kandidat dengan budaya perusahaan.
Selain itu, kandidat harus melewati beberapa lapisan wawancara dengan tim kepatuhan dan risiko, serta melengkapi dokumentasi rinci di setiap tahap perekrutan.
Proses yang panjang ini terjadi di tengah meningkatnya pengawasan regulasi dalam dua tahun terakhir.
“Bank berada di bawah tekanan besar untuk memastikan kepatuhan, dengan regulasi yang semakin kompleks terkait anti pencucian uang, kecerdasan buatan (AI), prosedur know-your-customer (KYC), dan privasi data,” kata Sheffield.
Menurut firma rekrutmen Robert Walters Plc, bank-bank kini banyak merekrut tenaga di bidang KYC, manajemen asset-liability, manajemen risiko regulasi, termasuk risiko kredit, risiko pasar, risiko operasional, serta fungsi berbasis teknologi.
“Relationship manager tetap menjadi posisi yang paling dicari, terutama yang memiliki jaringan nasabah kuat,” kata Elaine Chu, Senior Manager Financial Services Robert Walters Hong Kong.
Namun, kehati-hatian tidak hanya datang dari perusahaan. Kandidat juga semakin mempertimbangkan stabilitas bank sebelum berpindah kerja.
“Kami melihat lebih banyak kandidat yang bersikap lebih konservatif dibanding sebelumnya, ditambah lagi kenaikan gaji juga tidak sebesar dulu,” ujarnya.
Di sisi lain, bank-bank Hong Kong dinilai perlu mempertimbangkan ulang persyaratan kemampuan bahasa Mandarin untuk sejumlah posisi.
“Jika melihat kebutuhan perannya, mayoritas sebenarnya menggunakan bahasa Inggris,” kata Sheffield.
Ia menilai sejumlah institusi menerapkan proses rekrutmen tiga hingga empat kali lebih lama karena adanya mandat bahasa Mandarin, meskipun tidak selalu memiliki alasan yang jelas. Sekitar 70% talent pool Hong Kong sendiri berasal dari Tiongkok daratan.
Chu menambahkan, sebagian besar bank tidak mengurangi perekrutan, melainkan menyesuaikan tingkat jabatan. “Jika seorang vice president keluar, bank bisa merekrut assistant vice president. Jika assistant vice president keluar, mereka akan merekrut associate,” katanya.
Ia juga mencatat peningkatan jumlah pelamar internal yang berasal langsung dari industri perbankan.

Secara industri, sektor perbankan Hong Kong masih mencatat ekspansi tenaga kerja. Survei pemeringkatan bank Asian Banking & Finance menunjukkan 15 bank menambah jumlah karyawan sebesar 2,5% menjadi 70.611 orang pada tahun lalu. Angka ini lebih tinggi dibanding pertumbuhan 0,16% pada 2023.
Tai Sang Bank Ltd., bank terkecil di Hong Kong, serta Hang Seng Bank—bank lokal yang dimiliki The Hongkong and Shanghai Banking Corp. Ltd. (HSBC)—mencatat pertumbuhan perekrutan tercepat masing-masing sebesar 40% dan 19%.
Hang Seng Bank menambah lebih dari 1.300 karyawan menjadi 8.328 orang, sementara Tai Sang meningkatkan jumlah tenaga kerja sebanyak 14 orang menjadi 49.
Unit Asia-Pasifik HSBC Holdings Plc tetap menjadi pemberi kerja terbesar di sektor perbankan Hong Kong dengan sekitar 20.000 pekerja, sama seperti tahun sebelumnya.
Selain Hang Seng Bank dan Tai Sang Bank, lima bank lain juga menambah karyawan, yakni Bank of China (Hong Kong) Ltd., Shanghai Commercial Bank, Chong Hing Bank, CMB Wing Lung Bank, dan Public Bank (Hong Kong) Ltd.
Sebaliknya, Dah Sing Bank—salah satu dari dua bank milik keluarga yang tersisa di Hong Kong—mencatat pengurangan tenaga kerja tercepat sebesar 6,9%.
Industrial and Commercial Bank of China (Asia) serta China Construction Bank (Asia) juga melaporkan penurunan jumlah karyawan.
Tren perekrutan kontrak turut meningkat, tidak hanya di sektor perbankan tetapi juga di berbagai industri, sementara kenaikan gaji cenderung lebih rendah.
“Sebagian besar kenaikan gaji berada di kisaran 10%–15%. Dalam kondisi pasar yang sangat baik, biasanya bisa mencapai sekitar 20%,” kata Chu.
Sheffield menilai otomasi mulai memengaruhi strategi perekrutan bank.
“Banyak fungsi outsourcing, offshoring, dan peran generalis tanpa keahlian spesifik mulai dihapus dari organisasi,” ujarnya, merujuk pada penggunaan generative AI di fungsi middle dan back office.
Perekrutan di divisi investment banking juga melambat seiring volume transaksi global yang masih lemah. “Permintaan tetap ada untuk deal maker berkinerja tinggi, dan sesekali akan terjadi perekrutan agresif, tetapi tidak akan sesering sebelumnya,” katanya.
Namun, Chu menyebut posisi yang berkaitan dengan initial public offering (IPO) mulai kembali dibuka seiring bangkitnya aktivitas pencatatan saham di Hong Kong.
Pada semester pertama, nilai dana IPO di Hong Kong diproyeksikan melonjak lebih dari delapan kali lipat menjadi HK$108,7 miliar (sekitar US$14 miliar) dibandingkan tahun sebelumnya, setara 24% dari total global dan menempatkan Hong Kong di posisi teratas, menurut data Ernst & Young Global Ltd. (EY).
Kebangkitan ini didorong oleh perusahaan Tiongkok daratan yang mencari pertumbuhan melalui dual listing. IPO di Hong Kong dari perusahaan A-share maupun spin-off turut mendorong rata-rata dana per IPO meningkat lebih dari lima kali lipat secara tahunan.
EY mencatat, rata-rata dana IPO pada periode tersebut menjadi yang tertinggi kedua dalam satu dekade terakhir, hanya di bawah capaian luar biasa pada 2021.